GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Berkat Susi, Kapal Asing Tak Berani Lagi Curi Ikan di Laut Aru

Berkat Susi, Kapal Asing Tak Berani Lagi Curi Ikan di Laut Aru

Nelayan lelang hasil tangkapan ikan (Foto: Antara/Ampelsa)Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberantas praktik illegal fishing kembali diapres…

Berkat Susi, Kapal Asing Tak Berani Lagi Curi Ikan di Laut Aru

Nelayan lelang hasil tangkapan ikan

Nelayan lelang hasil tangkapan ikan (Foto: Antara/Ampelsa)
Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberantas praktik illegal fishing kembali diapresiasi oleh para nelayan lokal. Salah satunya diungkapkan oleh Siswo, nelayan asal Juwana, Pati, Jawa Tengah.Siswo kini rutin mencari ikan di Laut Aru, Maluku. Dia mengungkapkan, tindakan tegas Susi dengan menangkap dan membakar kapal ikan asing yang terbukti melakukan praktik illegal fishing bikin nelayan lokal untung dan tak lagi was-was saat melaut.

Baca Juga :

  • Pesan Susi Pudjiastuti: Yang Tidak Makan Ikan, Saya Tenggelamkan
  • Saat Negara di Afrika Ingin 'Pinjam' Menteri Susi
  • Susi yang Ingin Terus Tenggelamkan Kapal Illegal Fishing
"Setelah kapal asing diancam, kita baru masuk ke sana (Laut Aru) dan Alhamdulillah kita selalu dapat hasil," kata Siswo saat bercerita kepada kumparan (kumparan.com), Kamis (1/2).Siswo beserta puluhan nelayan lain dari Juwana, Pati memang diarahkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menangkap ikan di Laut Aru. Potensi perikanan tangkap di Laut Aru cukup besar apalagi saat musim angin barat laut saat ini. Siswo mengaku sudah menangkap 100 ton ikan hanya dalam waktu sebulan.

Aktivitas Nelayan di Pasar Olilit, Saumlaki

Ikan Tembang di Pasar Olilit (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
"Rata-rata ya sebulan itu sampai 50 sampai 100 ton," imbuhnya.Siswo beserta nelayan lain sudah berada di Laut Aru seja k September 2017 lalu. Sekarang ini, ratusan kapal nelayan asal Juwana dan Pekalongan mulai memadati Laut Aru. Umumnya alat tangkap yang mereka pakai adalah pancing, purse seine dan gill net. Tidak ada nelayan yang menggunakan cantrang."Kita pakai jaring purse seine. Kalau teman-teman ada yang pakai gill net dan ada yang pakai pancing. Sebanyak 100-an kapal sudah mulai datang dari Juwana ke sini (Laut Aru) karena kapal asing sudah enggak ada," ujarnya. Untuk sampai ke Laut Aru dari Juwana memang butuh waktu lama, sekitar 10 hari. Siswo dan nelayan lainnya datang ke Laut Aru dengan menggunakan Kapal Makmur Rejeki Santosa berbobot 137 Gross Tonage (GT). Saat ini di Laut Aru tengah memasuki musim angin barat yang identik dengan panen ikan di wilayah Timur Indonesia. Jenis ikan yang paling banyak mereka dapatkan adalah pelagis dan demersal seperti tembang, kembung dan lemuru.

Aktivitas Nelayan di Pasar Olilit, Saumlaki

Ikan Tembang di Pasar Olilit (Foto: Penjual bahan baku sambal cole-cole khas Saumlaki)

Ikan hasil tangkapan kemudian disortir lalu dibekukan lewat mesin berpendingin yang berada di dalam kapal. Ikan kemudian dikirim untuk didaratkan ke Pelabuhan Dobo untuk didata. Setelah didata, ikan kembali dimasukkan ke dalam kontainer berpendingin lalu dikirim ke Surabaya dan masuk kembali ke Juwana untuk diekspor dan dijual kembali di dalam negeri.Dengan cara ini, Siswo dan nelayan lainnya asal Juwana dan Pekalongan untung besar. Dia juga berterima kasih kepada Susi karena sudah tegas memberantas praktik illegal fishing dan kini nelayan lokal mampu memaksimalkan kekayaan sumber daya laut Indonesia. "Dengan ini bukti kalau nelayan lokal mampu menangkap ikan. Kemarin saya minta dukungan supaya kapal asing jangan dimasukkan lagi supaya nelayan kita bisa memanfaatkan pote nsi ikan sendiri. Jangan sampai dimanfaatkan orang lain," seru Siswo.Sumber: Google News | Liputan 24 Dobo

No comments