GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Belajar Klastering Kawasan Hortikultura dari Maluku Tenggara

Belajar Klastering Kawasan Hortikultura dari Maluku Tenggara

JawaPos.com - Sistem klaster (clustering) hortikultura adalah sistem pengelolaan potensi wilayah sesuai dengan karakteristik tertentu. Mulai dari tanah, kesesuaian agrok…

Belajar Klastering Kawasan Hortikultura dari Maluku Tenggara

JawaPos.com - Sistem klaster (clustering) hortikultura adalah sistem pengelolaan potensi wilayah sesuai dengan karakteristik tertentu. Mulai dari tanah, kesesuaian agroklimat, keunggulan komparatif dan potensi sumberdaya alam masing-masing wilayah untuk pengembangan komoditas hortikultura.

Tujuan dari klastering adalah penataan kawasan sehingga keunggulan komparatif hortikultura di satu daerah lebih terarah dalam hal mutu, teknologi budidaya, hingga pengendalian OPT.

Output-nya adalah kemudahan petani menjual produk pertaniannya dalam jumlah besar, dengan rantai dagang yang tidak terlalu panjang.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, klastering komoditas penting untuk mendorong berkembangnya industri berbasis agro.

"Selain itu klastering dapat juga mendorong ekspor pertanian ke luar daerah," ujar Prihasto di Jakarta, Minggu (1/7).

Dia menambahkan bahwa Menteri Pertanian, Amran Sulaiman sangat mendorong terbentuknya klaster komoditas khususnya di kantong-kantong kemiskinan.

Sebab, klastering komoditas menjadi program unggulan Kementan sebagai solusi pengentasan kemiskinan permanen.

"Istilah Pak Mentan 'Bekerja', Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera," jelas Prihasto.

Klastering di Maluku Tenggara

Prihasto mengaku salah satu daerah yang sukses menerapkan pola klustering adalah Maluku Tenggara.

Di sana, petani dan Dinas Pertanian didukung penuh oleh Bupati telah mempraktikkan sistem klaster dalam penataan kawasan pertaniannya.

“Klastering ternyata telah dipraktikkan meski masih dalam skala terbatas”, ujarnya.

Konsepnya yakni dengan membagi kawasan hortikultura per jenis komoditas unggulan daerah setelah melalui kajian lintas bidang.

Sebagai conto h, kawasan klaster bawang merah dikonsentrasikan di 3 desa di Kecamatan Kei Kecil Timur, yaitu Desa Yafavun, Kamear dan Watngon.

Kawasan klaster Cabai difokuskan di Desa Danar Sere, Danar Ternate, Danar Ohoiseb dan Danar Lufemar di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan.

"Untuk klaster Semangka, dikonsentrasikan di Desa Ngayub Kecamatan Manyeuw. Sedangkan klaster Mangga, dikembangkan di kawasan pariwisata Pantai Pasir Panjang Desa Ngilngof Kecamatan Manyeuw," jelas Prihasto.

“Penetapan klaster spesifik komoditas tersebut memudahkan kami untuk mengelola sumber daya yang diperlukan," lanjutnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Djasmin Badjak, menguraikan permasalahan yang dihadapi dalam penataan kawasan hortikultura berbasis klaster di Maluku Tenggara.

Yakni terkait status kepemilikan lahan dan keterbatasan infrastruktur.

“Sebagian besar masih berupa tanah adat yang dikuasai oleh pemuka adat setemp at sehingga perlu upaya persuasi lebih mudah,” terang Djasmin.

Selanjutnya adalah keterbatasan infrastruktur pengairan, jalan usaha tani, dan alat berat untuk membantu pembukaan lahan.

"Kedepan pihaknya berharap bisa lebih bersinergi dengan Kementerian Pertanian untuk lebih memantapkan sistem klaster tersebut," pungkasnya.

(mam/JPC)

Sumber: Berita Maluku

No comments